Diri: Jangan Paksa Aku

  Hari ini sedikit lebih berani, lama sudah tidak menuliskan beberapa baris kata dalam sebuah catatan kecil sederhana. Tapi hari ini juga aku pikir berharga saat buah manisnya kau bisa membaca tulisan yang sesederhana ini. Saat melihat judul ini kau jangan pernah bingung, aku hanya menulisnya atas dasar pengalamanku bukan untuk ku umbar agar aku terlihat terkenal tapi aku hanya ingin sedikit membagi cerita bagian hidupku yang ku pikir layak aku ceritakan.

   Aku pernah menemui suatu keadaan, dimana pada saat itu aku dekat dengan seorang wanita yang aku kenal melalui sosial media. Dan mungkin saja yang saat ini membaca adalah dia sendiri dan aku harus bilang padanya terima kasih atas makna kedekatan yang kau ajarkan melalui sikap dan ku rangkai kembali dalam bentuk kata. Ya, sebagaimana orang lain kedekatan ku selalu diliputi rasa bahagia. Bahagia saat pertama bertemu setelah hanya berchatting ria di sosial media dan bahagia rasa karena perhatiannya nyata di depan mata. Singkat cerita, kedekatan itu tentu menimbulkan sebuah perasaan dimana ketika ada perhatian maka ada tanggapan sebaliknya yang kuberikan. Seiring waktu dengan kurun waktu tertentu aku merasa dan sudah mulai berpikir hanya dia yang pantas bagiku untuk aku jadikan seorang pacar seperti halnya anak-anak muda lainnya. Begitu tumbuh dengan percaya dirinya perasaan itu. Sehingga aku tidak bisa membohongi perasaanku aku ingin segera menyatakan padanya dan ingin segera mendapat jawaban bahwa aku bisa menjadi bagian special dalam hidupnya. Pikiran yang muncul pada saat itu hanya ingin mencari cara terbaik buat dia mengerti apa yang aku rasakan.

            Aku bukanlah orang yang romantis, tapi saat aku merasakan hal yang bahagia aku menjadi orang yang ingin sempurna menyatakan segalanya di depan dia. Pada waktunya tiba aku pun bisa menyatakannya dengan setangkai bunga mawar merah dan sebait kata yang aku tulis dalam lembaran putih. Aku merasa bukan diriku pada saat itu karena begitu beraninya dan itu aku lakukan dengan penuh percaya diri tanpa aku berpikir apakah diterima atau ditolak. Sampai pada akhirnya seiring jantungku yang semakin berdetak kencang dan dengan sangat sederhana aku mendengar ucapannya yang tidak bisa secara jelas aku tuliskan disini dan hanya sebagai maknanya saja yang menyatakan bahwa dia tidak ingin tergesa-gesa, dia hanya ingin aku dan dia bisa menghargai kedekatan yang sama-sama kita jaga, dia berkata juga kalau kita bisa seperti ini dan dengan begitu akrab dan dekatnya, hal seperti apa lagi yang ingin kita cari dalam status ‘pacaran’. Bukankah hanya dengan seperti ini kita bahagia sudah cukup untuk dijalani. Ketimbang memaksakan diri hanya untuk mengubah status dari kedekatan menjadi pacaran. Aku pun terdiam dan pada saat itu juga segera ku susul dengan beberapa kata untuk mengakhiri pembicaraan kita. Aku bergegas pulang dan sesampainya dirumah aku merenung dan mengambil sebuah kesimpulan dari apa yang dia telah sampaikan.


            Aku butuh menghargai hubungan yang sudah dijaga sejak pertama kenal hingga ketemu, persoalan memberikan bunga dan sebuah puisi itu tidak masalah. Tapi yang harus aku ambil sebagai kerendahan hati yang baik adalah status pacaran itu bukan hal yang penting ketika dengan kebersamaan saja kau bisa nbahagia dengan dia. Bukankah kita akan bahagia ketika melihat pasangan kita sendiri dapat tersenyum dengan manisnya akan kebersamaan yang kita jaga. Sudah seharusnya aku mengakhiri artikel sederhana ini dengan mengajak kalian yang membaca, cobalah berpikir untuk meletakkan makna sebenarnya kebahagiaan itu adalah kedekatan dan kebersamaan bukan pada status pacaran. Kalo pacaran saja tidak bisa merasakan kebersamaan apa bedanya dengan yang lain. Sebab jika kedekatan dan kebersamaan sudah ada, tentu akan menimbulkan perasaan memiliki antara satu dengan yang lain bukan atas dasar status yang bisa saja terhapus. 
Disqus Comments