Smartphone dan Ruang Bermain Kekinian

“Kids zaman now” memang sebuah gelar yang baru untuk menggambarkan kehidupan anak-anak pada saat ini. Bukan tanpa sebab, lingkungan menjadi faktor utama pendukung lahirnya istilah baru tersebut. Keluarga, masyarakat bahkan sekolah membentuk sebuah perilaku yang seakan menjadi sesuatu lumrah dan merasa pantas untuk diikuti oleh sebagian besar kalangan anak-anak.
              
Munculnya sebuah istilah tersebut juga menjadi isyarat pembeda bahwa kehidupan anak-anak zaman sekarang lebih cenderung tidak sesuai dengan kebiasaan orang tua yang hidup di masa lalu ketika masih anak-anak. Faktor pembeda terletak pada alat komunikasi dan informasi yang canggih serta murah dan mudah untuk dibawa kemana-mana yaitu smartphone (ponsel cerdas).
               
Beberapa kesempatan yang lalu, saya menemukan pemandangan yang luar biasa yang dilakukan ‘kids zaman now’. Sebagaimana anak-anak umumnya mereka masih suka bermain ‘petak umpat’, berlari-lari ramai dengan teman sebaya, hingga nangis dijalan akibat kejahilan diantara mereka. Ada hal menarik dibalik kebiasaan anak-anak kini.
Diantara ramainya mereka bermain, saya menemukan dua orang anak yang terlihat santai dengan sebayanya duduk tidak jauh terpisah dari yang lain. Uniknya, mereka berdua semacam berdiskusi satu sama lain. Tanpa saya sadari ternyata mereka memegang smartphone masing-masing.
                
Terlintas dalam pikiran saya, apakah mereka tidak iri dengan teman yang lain yang ramai bermain dan jumlahnya lebih dari mereka berdua? Padahal dahulu saat saya masih kecil di cueki teman sebaya pun rasanya sangat terpuruk sekali dan sedih. Tapi, apa yang terjadi dengan mereka berdua? Mereka justru asyik terlihat membicarakan sesuatu yang saya tidak tahu persis apa yang mereka bicarakan.
                
Saya hanya berpikir bahwa smartphone kini juga punya dampak memecah ruang bermain diantara mereka. Kenapa saya katakan seperti itu? Dari contoh yang saya lihat, kecenderungan anak-anak sebaya mereka apabila memiliki smartphone maka akan lebih tidak peduli dengan lingkungan disekitarnya. Mereka yang memiliki smartphone cenderung menciptakan ruang bermain sendiri dengan teman sesama yang juga sama memiliki benda tersebut. Memang kesimpulan ini terlalu cepat untuk saya tulis, namun faktanya ruang bermain bagi anak-anak kekinian adalah ruang bermain imajinasi yang direfleksikan melalui layar visual yang mereka pegang yaitu smartphone. Maka, tidak heran ‘kids zaman now’ ketika lima hingga sepuluh tahun ke depan akan mengenang, bagaimana rasanya tidak punya kuota untuk mengakses internet? Bagaimana rasanya ketika jaringan internet yang lambat? Sebab ruang bermain anak-anak kini juga pelan-pelan sudah beralih ke sesuatu yang serba canggih.
                
Modernisasi semacam ini tidak bisa kita bantah. Anak-anak kekinian akan lahir, tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemajuan zaman yang serba canggih. Apapun alasannya kita harus segera memahami pada saat usia berapa dan sejauh mana anak-anak dilingkungan sekeliling kita, diperbolehkan untuk bisa menciptakan ruang bermain sendiri tanpa harus melupakan kondisi yang ada disekitarnya.


Disqus Comments