Menatap Indonesia Beradab Bersama BK

Mendiskusikan tentang Indonesia tidak akan pernah habis. Jika dibuat sebuah buku, tentu akan terdapat banyak judul yang menggambarkan keberagaman Bumi Pertiwi ini.“Kekinian” merupakan sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan Indonesia saat ini. Sebab, laju pertumbuhan penduduk di Indonesia kini sebanding dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang serba canggih. Bukan tanpa alasan, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) proyeksi penduduk Indonesia sejak 2010 sudah mencapai 237,6 juta jiwa lebih. Angka tersebut menjadi penting untuk menggambarkan bahwa Indonesia sedang menghadapi sebuah peristiwa pertumbuhan penduduk yang sangat cepat. Disamping itu, teknologi informasi bersamaan masuk dan menjadi bagian penting masyarakat Indonesia. Tepat sekali, meskipun Indonesia terdiri dari gugusan pulau-pulau yang dipisahkan oleh laut dan selat yang luas.  Namun, dengan segala kecanggihan yang ada semua batas seperti tidak memiliki arti yang penting. Buktinya, setiap orang dari belahan bumi manapun dapat saling terhubung baik hanya melalui pesan teks, suara bahkan video sekalipun. 

Pertumbuhan penduduk dan kemajuan teknologi di Indonesia memiliki keterkaitan. Setiap masyarakat pasti beraktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan adanya teknologi yang canggih, kebutuhan tersebut dapat segera didapat dengan cepat, murah dan mudah. Hal tersebut dianggap sebuah solusi untuk menjawab permasalahan yang ada. 

Menjelang tepat 100 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pada 2045 nanti, Indonesia masih harus berhadapan dengan beberapa permasalahan bangsa. Kemiskinan, pengangguran, isu sara, ekonomi bahkan pertahanan dan keamanan. Terbukti, setiap hari kita tidak henti-hentinya disuguhi informasi dan fakta nyata yang menceritakan bahwa Indonesia dalam keadaan yang tidak baik. Beberapa waktu lalu, rakyat Indonesia disuguhi tentang kejamnya seorang oknum murid yang tega membunuh seorang Guru. Kasus tersebut hanya sebagian kecil gambaran tentang kondisi moral generasi penerus Indonesia yang jauh dari nilai-nilai luhur. Berbagai macam pelajaran yang memuat budi pekerti, sopan santun, kejujuran, kesetiaan dan pendidikan moral di sekolah seolah tidak berarti apapun melihat tindakan oknum yang tidak beradab tersebut. Padahal seringkali kita mendengar sebuah pepatah yang tidak asing ditelinga, “Pemuda masa kini adalah gambaran pemuda di masa yang akan datang”. Lalu, dapat dibayangkan Indonesia menjadi lebih mengerikan dengan peristiwa yang ditampilkan di masa sekarang. 

Menuju 100 Tahun Indonesia merdeka tentu setiap orang mengharapkan sebuah kesejahteraan, kebahagiaan dan kedamaian dalam bingkai kehidupan berbangsa dan bernegara. Peran pendidikan adalah salah satu dari banyak peran yang diharapkan turut serta dalam mewujudkan cita-cita luhur bangsa. Seperti yang termuat dalam penggalan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 Republik Indonesia yang berbunyi : “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…”. 
Mengemban peran pendidikan tentu tidak terlepas dari proses pelaksanaan sistem pendidikan itu sendiri. Sebab, pendidikan memiliki arti yang luas dalam konteks mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional  No. 20 Tahun 2003 ) Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Dari pengertian tersebut, secara sadar proses pendidikan yang baik bukan di nilai hanya melalui angka-angka yang bernilai tinggi. Tetapi, melalui integrasi nilai-nilai budi pekerti yang luhur dalam pendidikan. 

Mendiskusikan tentang cita-cita bangsa ke depan melalui peran pendidikan, tentu tidak bisa dilepaskan dengan Guru Bimbingan Konseling. Hadirnya sebuah persoalan yang dihadapi dalam proses pendidikan jika tidak segera diselesaikan tentu akan berdampak pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Di masa yang akan datang moral generasi penerus akan terus di uji dengan tantangan kemajuan zaman yang selalu hadir bagaikan pisau bermata dua. Pada satu sisi berdampak positif dan disisi lain dapat meruntuhkan tatanan kehidupan masyarakat. Tentu, saat ini dibutuhkan penyeimbang positif untuk menata pendidikan Indonesia melalui peran Guru Bimbingan Konseling. Hampir setiap hari, setiap orang tidak terlepas dari yang disebut dengan masalah. Permasalahan yang dihadapi beragam dan semakin rumit. Penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas remaja, kekerasan, pengangguran, persaingan usaha merupakan diantara dari banyak masalah yang dihadapi seiring pertumbuhan masyarakat. Hal tersebut membuat setiap orang semakin tertekan, tak jarang percobaan untuk melakukan tindakan melawan hukum dilakukan.

Indonesia di masa yang akan datang tentu bisa lebih baik. Jika, saat ini Guru Bimbingan Konseling mengambil peran dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang beradab. Ada beberapa hal yang menjadi peran penting dalam mewujudkan Indonesia beradab dalam rangka menuju 100 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia bersama Bimbingan Konseling, yaitu:

1. Mengubah Pola Pikir
Pola pikir yang terbangun dalam lingkungan sekolah saat ini terhadap Guru Bimbingan Konseling adalah sebagai “Polisi Sekolah”. Dimana peran tersebut bertujuan untuk menghukum siswa-siswi yang berperilaku tidak baik di sekolah. Pola pikir itu hendaknya diubah dengan budaya sikap yang ditampilkan oleh Guru Bimbingan Konseling yang diterapkan bersama dalam aturan sekolah setempat. Misalnya saja, dengan mengadakan “Jum’at Sahabat”. Dimana kegiatan pada hari itu di fokuskan pada jam tertentu agar siswa-siswi diberikan kesempatan menceritakan curahan hati pada Guru Bimbingan Konseling. Langkah ini dilakukan untuk memberikan kesan bahwa Guru Bimbingan Konseling adalah sahabat bagi peserta didik.

2. Profesi Kemanusiaan
Menjadikan profesi Guru Bimbingan Konseling sebagai profesi kemanusiaan. Berarti, memberikan kesempatan diri untuk lebih bermanfaat bagi orang lain tidak hanya dalam lingkungan sekolah. Ketika seorang Guru Konseling menyadari hal ini, tentu akan berdampak positif bagi orang lain secara umum. Sebab, proses bimbingan konseling tidak hanya meliputi seputar perilaku negatif. Tetapi, jika ada seseorang yang membutuhkannya untuk berkonsultasi misalnya melanjutkan karir ke jenjang yang lebih baik, bimbingan pendidikan bagi anak jalanan.  Maka, seorang Guru Bimbingan Konseling dapat menjadikan profesinya sebagai panggilan hati untuk membantu sesama. Disamping dalam lingkungan formal sekolah. Maka, Guru Bimbingan Konseling dapat bermanfaat dilingkungan yang lain. Sebab, disadari bahwa peran seorang Guru Bimbingan Konseling tidak terikat ruang dan waktu.

3. Memahami Konteks Kekinian
Menjadi Guru Bimbingan Konseling juga harus semakin dinamis sesuai perkembangan zaman. Jika proses Bimbingan Konseling hanya bisa dilakukan dengan bertatap muka, maka penggunaan teknologi dalam arti yang positif dapat dilakukan. Misalnya saja, dengan melakukan video call kepada orang tua siswa-siswi yang mendapatkan masalah. Sehingga akan terjalin hubungan antara sekolah, orang tua murid dan siswa itu sendiri.
Akhirnya menuju tahun 2045 (100 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia) ke depan, peran Guru Bimbingan Konseling semakin luas dan terarah. Proses Bimbingan Konseling tidak bersifat kaku dan mengikat. Berfokus pada tujuan dan cita-cita Bangsa Indonesia ke depan bahwa persoalan bangsa ini bisa dijawab dengan peran Guru Bimbingan Konseling dalam artian yang luas. Bukan sekedar profesi mengikat dalam lembaga pendidikan semata. Namun, menjadi profesi kemanusiaan yang sesuai dengan hakikat pendidikan itu sendiri yaitu memanusiakan manusia.
Disqus Comments